Pecahan piring kaca itu

Terbelah begitu saja ditanah beku

Sudah tak berguna, tak menguntungkan lagi

Lantas, bagaimana dengan dirinya?

Apakah dya berguna? Apakah dya menguntungkan?

“tolong ambilkan ibu segelas air putih”

“ahh nanti saja, aku lelah bu”

Lalu membaringkan tubuh begitu saja keatas ranjang

“kak, yang ini bagaimana cara mengerjakannya?”

“ahh kau kan sekolah. Masa begitu saja tidak mengerti. Aku ngantuk, kerjakan saja sendiri!”

Acuh dan tak peduli lagi dan lagi

Tak pernah sadar bagaimana rasanya piring beling itu saat terjatuh

Saat masih utuh, zat padat itu selalu membantu pemiliknya

Tanpa berontak, ataupun mengeluh

“dik, tolong taruh ini ke bak cucian kotor”

*hening*

“hey! Kau tak dengar apa yang kakakmu katakana ini. Letakkan baju ini ke bak cucian kotor!!”

*hening, menundukkan wajah”

“dasar adik tak berguna!!!” *menepiskan pakaian itu pd wajah adiknya*

Apa yang di rasanya? Apa yang dipikirkannya?

*membanting tubuh keatas tikar. Menutup wajah dengan tangannya, dan menangis*

“astaga. Kakak macam apa aku ini.. ayah pasti sedih disurga sana T_T”

Saat pemilik piring tak sengaja menjatuhkannya, ada sedikit penyesalan yang dirasa

Lantas apa yang terbesit dalam benak seorang kakak itu?

Bisakah pecahan beling itu kembali tersusun menjadi utuh seperti semula?

Tak ada yang bisa dilakukan sang pemilik. Itu hal yang mustahil!!

Lantas jika ada satu jawaban lagi untuk menyusunnya kembali utuh itu mungkin

Sang pemilik akan bersemangat memungut, dan menyusunnya kembali seperti puzzle

Saat penyesalan memberikan kesempatan untuk memperbaikinya

Apa yang akan dilakukan seorang kakak itu?

Mencoba diam dalam keheningan

Memaki amarahnya sendiri, memerangi dirinya sendiri

Advertisements