Archive for October, 2012


Tata Surya Cinta

Pelangi, indahnya warna mu.

Melukiskan indahnya senyuman dia dalam bayangku

 

Mentari pagi, terangnya sinarmu .

Melukiskan semangat dia akan cintanya padaku .

 

Awan, berubah ubah bentukmu .

Bagaikan sikapnya yang tak tentu dan selalu berubah terhadap ku seiring berlalunya waktu .

 

Petir, datangnya engkau mengagetkan dan menakutkan .

Tak seperti dirinya , karna dia datang dengan mengejutkan dan memberikan kebahagiaan .

 

Ohh hujan, derasnya engkau .

Bagaikan air mataku yang mengalir deras melihat dirinya yang telah pergi dan menjauh dariku 😦

 

Angin, wujudmu tak ada, tapi datangnya engkau bisa ku rasakan .

Sama seperti cinta ini, yang tak berwujud tapi bisa ku rasakan .

 

Bulan, bulatnya bentukmu .

Melukiskan gambar wajahnya dalam benakku. Continue reading

Saat aku terdiam , melamun sesaat .

Saat itu semua tanya berkata dalam pikiran .

ohh kasih . . .

Masihkah kau mencintaiku ?

Masihkah kau menyayangiku ?

Masihkah kau merindukanku ?

 

Terus terlantun kata” yg membuat ku bimbang .

Tanya-tanya yang membuat ku ragu .

Membuat tubuh ini lemah bagaikan kapas .

 

Ooh kasih . . .

Masihkah ada inginmu untuk memilikiku kembali ?

Masihkah ada hasratmu tuk dapatkan pelukan hangat dari diriku kembali ?

Masihkah kau rindukan belaian lembut pipimu dari tanganku ? Continue reading

“Apa maksudnya ini? pulang jam berapa kau semalam?

kenapa ada bekas lipstik di sapu tangan mu? mau mencoba bermain api lagi kau?”

“ini semua salah paham. tak ada yang bermain api !!

sampai kapan kau terus mencurigaiku? aku ini suamimu!! bukan orang lain !!!”

Kembali kudengar pertengkaran antara ayah dan ibu. Seperti biasa aku hanya dapat melihat, terdiam dibalik pintu kamarku dan membiarkan air mataku berlinang sampai semuanya selesai dan ayah memanggilku untuk mengantarku sekolah .

Hari-hari pun kulalui seperti biasanya. Pagi hari bukan duduk diruang makan dengan kehangatan sebuah keluarga.

Tapi hanya cacian yang tiap kali kudengar dari ayah dan ibu .

 

Mungkin untuk anak seusiaku yang masih duduk di bangku SMP ini, terlalu berat dengan masalah keluargaku yang broken home. terlebih saat aku mengetahui sejak satu tahun lalu aku terkena kanker otak stadium akhir .

Teman-teman disekolah tahu aku sebagai anak yang pendiam .

 

Seperti biasa saat bel istirahat, aku hanya duduk ditaman sendirian. Menikmati ketenangan di bawah sejuknya pepohonan .

“heyy, boleh aku duduk disini ??”

Dicka yang tiba-tiba datang menghampiriku duduk disampingku .

menyapaku dan aku hanya menganggukkan kepala . Continue reading

Saat kubuka lubuk hatiku kembali

saat itu kurasakan semuanya lagi

rasa yang selalu membuatku merasa bahagia

rasa yang membuatku bagaikan manusia sempurna

 

begitu indah aku miliki

bagai seorang romeo menemukan julietnya

akupun kehilangan kata tuk mengungkapkannya

 

terlebih saat hati ini terluka

bagai dedaunan kering tersapu terbang begitu saja

entah karna apa semuanya ?

mungkin karna aku terlalu mencintainya Continue reading

malam ini, terniang dalam anganku akan dirinya

lelaki yg menjadi teladanku

yg merawatku hingga sebesar ini

yg telah pergi dari hidupku

 

dia yg menggendongku saat aku tertidur

lelaki yg menina bobokanku sewaktu kecil

yg mendidik aku dengan keras

lelaki yg menghukum aku saat aku berbuat salah

dya yg membentak aku ketika bodoh mengerjakan tugas skolah

 

seseorang yg menemani tidurku dimalam yg dingin

lelaki yg menyelimuti aku ketika hujan

dya yg mengusap aku saat tidur siang Continue reading

Pecahan piring kaca itu

Terbelah begitu saja ditanah beku

Sudah tak berguna, tak menguntungkan lagi

Lantas, bagaimana dengan dirinya?

Apakah dya berguna? Apakah dya menguntungkan?

“tolong ambilkan ibu segelas air putih”

“ahh nanti saja, aku lelah bu”

Lalu membaringkan tubuh begitu saja keatas ranjang

“kak, yang ini bagaimana cara mengerjakannya?”

“ahh kau kan sekolah. Masa begitu saja tidak mengerti. Aku ngantuk, kerjakan saja sendiri!”

Acuh dan tak peduli lagi dan lagi

Tak pernah sadar bagaimana rasanya piring beling itu saat terjatuh

Saat masih utuh, zat padat itu selalu membantu pemiliknya

Tanpa berontak, ataupun mengeluh

“dik, tolong taruh ini ke bak cucian kotor”

*hening* Continue reading