Yang aku tahu , matahari tercipta hanya untuk paginya

Yang aku tahu , bulan tercipta untuk malamnya

Yang aku tahu , pelangi tercipta untuk hujannya

 

Bintang-bintang bertaburan pada langitnya

Awan putih terhias pada langitnya juga

Tak tampak kilauan cahayanya bintang

Bentuknya tanpa sinar bukan keindahannya

 

Saat malam berkabut pun takkan pudar dengan bulannya

Langit biru pekat sebelum fajar menyinari nya

Satu bentuk kesetiaan antara satu dengan yang lainnya

Kupu-kupu mengepakkan sayapnya saat waktu yg bersamaan

Matahari yang menerangi paginya

Begitupun malam dengan bintangnya

Terkecuali saat hujan yg turun ketika malamnya

Dingin , angin kencang

Malam kelabu terasa kembali dengan keheningannya

Mencari-cari cahayanya

Dimana bintangnya? “mana bintangku?” katanya pada hujan

Malam yang malang , membiarkan angin menyapunya

Kenapa terasa begitu sepi? Begitu pilu…..

 

Kembalikan bintangku? Kesetiaankuu

Menjerit dalam kegelapannya, malam yang sunyi

Kenapa aku harus mencarinya?

Bukankah dya akan terang kembali pada waktu nya?

 

Saat hujan terhenti, saat langit tak basah lagi

Malam terus menanti, bintangkuu… oh bintangku…

Satu kesetiaan abadi, itu kuncinya

Berapa lama lagi waktunya?

Berapa lama lagi aku harus menunggu ?

 

Aku rindu bintangku, aku rindu terangku

Sinarnya yang menghangatkanku

Menghiasi langit malamku

 

Hujan terus merintik, awan tak tahan membendungnya lagi

Namun bagaimana dengan malam itu?

Tetap setia menanti bintangnya sampai hujanpun usai

 

Terbesit satu titik keputusasaan

Namun malam mengingat sesuatu, yaaa…sesuatu

Kesetiaan! Satu kata yg pernah dibisikkan bintangnya

“aku yakin bintangku takkan lama pergi dariku” kata nya

“aku yakin hujan takkan lama menyembunyikannya” katanya lagi

Advertisements