Setiap orang punya kehidupannya masing-masing. Punya impian masing-masing. Punya tujuannya masing-masing. Meski terkadang mereka kehilangan dan kebingungan harus ke arah mana mereka harus terus melangkah untuk mencapai semua tujuan itu. Kadang mereka juga seakan kehilangan banyak cara dan upaya untuk melanjutkan perjalanannya. Atau juga mereka mempunyai berjuta-juta cara dan arah, sehingga mereka merasa kebingungan harus kearah mana mereka melangkah dan harus dengan cara apa mereka bisa terus berjalan. Satu tujuan, berbagai rintangan. Satu keistimewaan yang Tuhan berikan pada kita. Disaat posisi yang tidak menentu itu, saat semua hal menjerumuskan, menghampiri, saat berjuta pilihan menyertai kita, saat berada dalam ketidakpastian, Tuhan berikan kita suara hati. Saat semuanya terasa tak jelas, suara hati kitalah yang akan menunjukkan kita pada semuanya yang pasti itu, pada semua yang kita pandang tidak pasti, namun suara hati kita menuntun pada semua kepastian itu. Ikuti suara hatimu, meski terkadang bertolak belakang dengan keinginan atau pikiranmu, tapi suara hatilah yang memang paling benar adanya. Begitupun cintamu. Tanya hatimu, siapa cinta mu? Cinta yang membuatmu bahagia, cinta yang menemanimu setiap saat, cinta yang tak beralasan, cinta yang apa adanya, cinta sejati yang sampai mati .. . .

“kriiiiiiiing . . . . . . “

Dering hape shasi berbunyi. Tepat pukul 08.15 pagi itu. Tertera dilayar telefonnya nama Debora memanggil .

“hoooooaaaammm, hallo? Ini siapa?”

“yaampun shasi. Kebangetan bgt ya. kamu dimana? Jadi ikut gak sih?”

Ucap debora pagi itu pada shasi dengan sedikit membentak.

“ha? Astaga iya aku lupa kak. Hari ini anak pecinta alam ada acara baksos kan ya?? Adudududuuuh udah dulu yaa kak, aku mau mandi mau siap2. Nanti aku hubungin lagi. Byeeee sayang muaah”

“ee eeehhh tunggu, shi? Shasii???.  Dih ngeselin nih anak!”

Tanpa basa-basi lagi shasi menutup telponnya, tersadar karena dya telat untuk acara baksos bersama anak-anak pecinta alam siang ini .

***

Pagi ini sinar matahari tidak terlalu memancarkan terangnya. Anginpun kerap kali menyapa mengikuti. Shasi yang sudah siap dengan sepatu cats, jeans kesayangannya yg entah sudah berapa lama tidak ia cuci. (Hem terlalu sering dipakai jadi mungkin lupa untuk dicuci. Ckckck.) Dan dengan kaos merahnya bergambar spiderman. Mungkin kelihatannya biasa, tapi dengan rambut panjangnya yang ia biarkan terurai panjang, ia kelihatan lebih manis. Yaa itulah dya. Shahi Danasha. Anak keempat dari enam bersaudara keturunan keluarga cina bermarga Danasa.

**disekolah**

“hey kak deboo . . . .”

Teriak shasi dari kejauhan saat melihat Debora yang sudah melihat dya juga saat di depan gerbang sekolah.

“nih dya ni anak. Yaampun kamu telat setengah jam. Anak kelas satu udah pada ngumpul semua tuh. Nah kamu kakak kelas malah telat. Gimana sih -_-“

“hehehe iyaiyaa maap. Udah dong jgn nyalahin aku terus kak. Semalem gara2 nonton dvd yg kakak kasih ke aku  tuh, ampe larut malem nontonnya. Jadi telat bangun gini deh. Sorry yaakkk hehehe. Oyaa anak2 udah pada ngumpul dimana?”

“alesan mulu kamu mah dek. Yaudah yukk gabung sama yang lain deh tuh udah pada ngumpul di ruang 7.”

Merekapun bergegas menuju ruang tujuh tempat berkumpul anak-anak pecinta alam.

“oke semuanya udah siap untuk acara baksos kita siang ini. Yaa walaupun kita hanya beberapa org, tapi tetap semangat yaa untuk pencarian dana social. Kali ini kita akan menuju ke senayan. Menurut info, kita akan bisa mendapatkan dana yang lebih dari cukup lah. Yaa semoga saja”

Kak nita sebagai ketua pencinta alam, membuka rapatnya  dan menjelaskan bagaimana mereka akan bakti social.

Mereka semuapun berangkat menuju tempat yang sudah mereka rencanakan pagi itu.

Meski pagi tadi terlihat cerah dengan kicauan suara burung-burung beterbangan, angin menyapu setiap daun-daun yang berguguran. Siangpun tak berteman, sangat berbeda dengan pagi itu yang kelihatan mendung. Namun siang ini sang Raja Langit terlihat sangat terang benderang. Panasnya begitu mencolok merasuki kulit.

Karena kendaraan khusus tidak disediakan dari pihak sekolah, mereka pun memutuskan untuk berangkat menggunakan bus trans Jakarta.

“dih rame banget. Desek-desekkan nih pasti naiknya. Mana perut laper lagi nih. Haduuuuhh L”

Shasi yang memang tidak pernah bisa untuk diam sebentar saja, kerap kali ngedumel melihat antrian bus yang penuh.

“yailaah kak namanya juga Jakarta. Bukan Jakarta namanya kalo gak rame. Nih minum kak J”

Rivan anak kelas satu yang baru bergabung di kelompok pecinta alam itu pun membalas ocehan shasi, dan hendak menawarkan sebotol air segar saat melihat shasi yang kelihatan sedikit dehidrasi.

“hem iya sih dek. Emm makasih yaa buat minumannya. Segeeeeerrr :)”

“iyaa kakaknyaa. Sama sama :)”

Merekapun saling tersenyum dan memandang satu sama lain. Pandangan pertama, dengan tatapan mata yang berbeda, mungkin ada sedikit perasaan yang terlintas.

“heh lo berdua. Ayuuuk naik. Yeee malah bengong berduaan. Jangan2 jangan2 nih. Wahwahahhh”

Ledek kak nita yang melihat mereka berdekatan mengobrol sejak tadi tanpa menyadari bahwa bus telah datang.

“ehh hemm iya2. Apaan sih kak nitaa. Bisa aja nih ngeledeknya. Wooo”

Balas shasi membantah ledekan kak nita saat itu.

“hahaha tau nih kak nita. Jangan2 apa hayooo? Org gaada apa2 sih weee :P”

Rivan pun ikut berbicara, membela diri.

“ahh sepikk, kalian saling suka yaa? Hahahaha”

“eh eh ada apaan nih? Ayoo bukannya pada naik ke bus”

Kak Debora yang saat itu sedang mendata siapa yg belum menaiki bus, ikut berbicara menghampiri shasi, rivan dan kak yunita.

“ini nih deb. Ada yang cinlok. Ejiiiieee”

“woooo manee look??? Ada2 ajanih gosip2. :p”

“yee ngelaak aje lo van. Suka bilang aja kali”

“ohh jadi shasi sama rivan jadian yaa. Ejiiaaaaaa PJnya mana nih?”

Kak Debora ikut-ikutan angkat bicara.

“ih manee ran. Siapa juga yg pacaran yeee.”

“ih tau nih makin ngaco dah. Kita kan gk pacaran ya van :)”

“pacaran juga gpp kali dek :p”

“dihdiiihhh nih lagi kak Debora ikut-ikutan -_-. Udah ah ayukkk naik ke buss”

Setelah sempat beberapa kali meledeki shasi dan rivan, merekapun menaiki bus.

Siang itu, langit seakan berbicara melalui pancaran sinar matahari yang mengengat. Tetapi tidak mematahkan sedikitpun semangat anak2 pecinta alam untuk bakti social.

Akhirnya merekapun sampai ke tempat tujuan mereka. Yang mereka harapkan, mereka bisa mendapatkan dana yang cukup untuk baksi social kali ini. Tapi semuanya ternyata tidak berjalan lancar begitu saja. Sudah kira-kira dua jam, semua yang mereka lakukan pun tak kunjung membuahkan hasil. Kardus yang mereka bawa untuk menyimpan uang baksos pun masih kosong tak terisi, padahal hari sudah menjelang sore.

“yaaaahh gimana dong nih. Kita belum dapet dana juga sepeserpun”

Kak nita akhirnya berbicara memecah keheningan yang menyelimuti anak2 pecinta alam karena merekapun kelelahan setelah berjemur dibawah sinar tanpa menghasilkan apapun.

“aduuuhh kak aku udah capek banget nih. Gimana kita lanjutin minggu depan aja pencarian dananya?”

Naomi anak kelas satu mengeluh memberi usul untuk menyudahi saja pencarian dana hari ini.

“yaudah kita jalan aja dulu yuukk sampe keujung. Kalo ga dapet dana juga, kita pulang aja”

Kak Debora yang juga sudah kelihatan lemah, tetapi berusaha untuk membangkitkan kembali semangat teman2nya yang lain.

Merekapun berjalan dan terus berjalan menelusuri setiap jalanan yang terbentang lurus di hadapan mereka. Berjalan dengan langkah kaki yang kelelahan. Keringat mengucur hingga membasahi tubuh masing-masing.

“oo oohhh I will fly into your arms. and be with you, till the end of time. Why are you so far away. To get it`s very hard for me. To get my self close to you uuu …”

Terdengar alunan lagu dari mulut shasi. Yaaa, itulah shasi, hobby nyanyi sendiri untuk menghilangkan jenuh yang ia rasakan, meski sudah kelihatan sangat lelah, tetapi music bisa membangkitkan semangatnya.

“you  know all the things I’ve said, u know ll the things that we have done,  “

Rivan menghampiri shasi yang sedang berjalan di depannya dan ikut menyanyikan lagu ciptaan ten2 five yang berjudul I will fly itu bersama shasi. Dengan tersenyum  menatap shasi dari samping. Shasi pun membalas senyuman itu dengan manis.

“I wanna get I wanna get, I wanna get my self close to you…”

Kak nita yang mendengarnya dari depan, juga ikut menyanyikan lirik lagu itu hingga akhir.

“ciiyeeee. Nah gini dong semangat lagi. Anak pecinta alam gaboleh lemes. Liat dong tuh rivan sama shasi saking semangatnya sampe nyanyi-nyanyi berdua. Padahal lagi panas2 gini. Tapi tetep semangat”

Kak Debora datang merangkul nita dan shasi, mengucapkan kata2 untuk membangkitkan semangat semuanya. Meskipun ada juga sedikit diantara mereka yang sudah kelihatan sangat lelah.

Tetapi lama kelamaan, canda pun menghiasi perjalanan mereka yang sangat melelahkan saat itu. Mulai dari setiap lantunan lagu yang mereka nyanyikan bersama-sama, sampai candaan yang kerap kali di cetuskan rivan yang membuat shasi dan yang lainnya tersenyum riang.

Meskipun baksos kali ini tak membuahkan hasil yang memuaskan, tapi mereka semuapun merasakan gembira. Karena kebersamaan mereka, lelah pun tak terasakan lagi.

Rasa senang pun juga tampak terlihat jelas dalam diri shasi. Merasa menemukan sesuatu yang bebeda pada acara hari ini. Meskipun awal berangkat dya telat, sampai bertemu rivan yang sempat menatap dya dengan pandangan yang berbeda dan celotehan candaannya yang selalu membuat shasi tersenyum.

**malamnya dikamar shasi**

Malampun kembali tiba dengan langitnya yang tampak cerah. Bintang-bintang di awan tak luput untuk menyinari. Memberi hiasan dari setiap titik terangnya. Angin malam yang bertiup merdu kala itu. Membuat shasi yang sedang melamun dikamarnya merasakan ketenangan.

Seperti  biasa, untuk mengisi waktu luangnya, shasi biasa bermain di dunia maya twitter dan fb. Chatting dengan teman2nya.

“hem cari fbnya rivan ah. Dya anaknya asiik juga buat diajak bertemen. Lucu, baik, perhatian sm cewek J. Eh eh ehh walaaaahh. Kok gue jadi mikirin dya gini yaaa?? Masa sih gue suka sama rivan? Ah ngga ngga ngga mungkin. Hellloo shasiii. Dya tuh masih kelas satu. Masa suka sama brondong sih??? Hemm tapi dya lucu anaknya, apalagi kalo lagi ketawa. Matanya merem gitu, terlalu sipit tuh mata. Makanya kalo ketawa merem. Ahahahaha”

Ucap shasi dalam hatinya pada dirinya sendiri saat mengingat tentang rivan. Adik kelas yang baru dikenalnya saat itu. Sambil sibuk mencari laptop putih bermotif mickey mouse kesayangannya.

Email : harpot_uekigirl@yahoo.com

Password : ***************

Log In . à kliik.

“wiih kak Debora lagi on nih. Chat ga yaa? Ah ntar dulu deh mau search fbnya rivan ah :)”

Rivan hendra –> Search –> kliiik.

“nah nih dya anaknya. Yes ketemu. Add Ass Friend :)”

Shasi membuka laptopnya dan langsung browsing. Bermain di dunia maya, tak lupa juga niatnya mencari fb rivan. Rasa senang terlihat menghiasi wajahnya. Kemerah-merahan pipinya saat melihat akun fb rivan. Hatinya terasa berbunga-bunga. Seperti orang yang sedang jatuh cinta. Apalagi setelah beberapa menit rivan menerima permintaan pertemanan di fbnya. Rivan mengirim pesan di dinding shasi. Beberapa kali mereka saling bersapa melalui pesan dinding. Dan tak disangka, ternyata rivan  mengirim message pada shasi.

“hey kak shasi. Minta nomor hapenya dong? Boleh gak? :)”

“ heh buat apa? Hayoooo mau ngerjain aku yaa?”

“hihihihi ngga koq. Buat smsan aja hehe”

“ohehehe yaudah nih 083871191***”

“makasih kakak. Nanti aku sms yaa 🙂 byee”

“Yeeeeaaaaahh. Rivan minta nomor hape gue?? Yesyesyess berarti dya ada respon sama gua juga. Yesyesyesyes J hihihihi “. Desahnya dalam hati.

Hari itu terasa sempurna bagi shasi, terlebih mengingat apa yang sudah terjadi antara dya dengan rivan siang itu. Shasi merasa tidak menyesal ikut kelompok pecinta alam, karena berawal dari situ semuanya terjalin.

Makin lama, shasi semakin dekat dengan rivan. Smsan, tlponan. Mungkin ada perasaan di antara mereka satu sama lain .

**di sekolah**

Aktivitas seperti biasa dilakukan shasi. Bangun pagi, bersiap untuk berangkat ke sekolah. Berjalan kaki hingga ujung jalan rumahnya, menunggu bus yang mengantarnya ke sekolah. Sambil mendengarkan music dari ipod kesayangannya.

“you`re perfect. I know it. You`re perfect girl. I will do anything to be with you, there’s a nothing in the world to make me give up girl”

Dinyanyikannya lirik lagu cody simpson-perfect yang sedang di putarnya saat di perjalanan menuju sekolah. Lagu yang seakan melukiskan hatinya yang sedang berbunga-bunga. Perasaan aneh yang dirasakannya tiap kali mengingat rivan. Tiiiuuut tiiiuuuutt. Tiba-tiba dering hape shasi berbunyi, bertanda ada pesan masuk.

“morniiing shasi. Nanti pulang sekolah bareng yaa. Aku tunggu didepan gerbang pas bel pulang.

See you :)”  RIVAN.

Aw aw , sedikit tak terduga. Ternyata rivan yang mengirim pesan padanya. Mengajaknya untuk pulang bareng setelah bel pulang sekolah nanti.

“morning too rivan. Okee. Nanti di depan gerbang yaa. See you :)”

Shasi pun membalas message itu. Dengan rasa gembira yang menyelimuti, menambahkan keceriaan dalam hatinya yang sedang di landa asmara itu.

Shasi pun sampai di sekolah. Mengikuti pelajaran seperti biasanya.

Jam pelajaran 1-4 pagi itu sangat membuat shasi bosan. Karena bertemu guru produktif yang tidak ia sukai. Ia pun berharap bell pulang cepat berbunyi, agar dya bisa secepatnya bertemu rivan. Ckckck itulah cirri orang yang sedang jatuh cinta .

Krrriiiiiiiiiiiiiiiinnngggg  . . . . .

“yes. Akhirnya bel pulang jugaaa :)”

Shasi beranjak dari tempat duduknya, merapihkan buku dan hendak meninggalkan ruang kelas.

“pulang embahmu!! Baru juga jam berapa? Ini tuh bel istirahat dodol!! Woooo udah yukk ah ke kantin”

“ah sari ngigo nih. Bel pulang kali. Ee eehh masyaolloooohh iya yaa. Bel istirahat toh ternyata. Gue kira udah bel pulang sar. Hhuuh”

Sambil cengengesan sendiri, shasi menatap jam di tangannya seakan tidak percaya kalau sekarang masih jam istirahat.

“yeee ngelamun mulu sih lo. Lagian mau ngapain sih pengen cepet-cepet pulang? Aneh dah lo! Udah yukk ah kantin. Laper nih”

Sari, teman sebangku shasi. Seakan meyakinkannya dan menarik tangan shasi mengajaknya ke kantin.

Mereka berduapun berjalan menuju kantin. Shasi yang sebenarnya malas untuk beranjak dari kelas, akhirnya mau ikut ke kantin karena sari yang memaksanya. “yaudah deh gue ikut, kali aja di kantin ketemu rivan 🙂 xixixi” pikirnya dalam hati .

Saat dikantin . . . .

“sar, gue pesen bakso dulu yaa”

“yaudah sana, gue sih lagi pengen makan syomay. Ntarr duduk di meja biasa yaa si”

“okee .. . ..”

Sebentar berpisah untuk memesan makanan masing-masing. Shasi yang sedang sibuk mengantri bakso kesukaannya. Repot memesan pesanannya yang seperti biasa.

“aduuuhhh misi-misi. Panas nih ehh lo awas dong ih ngalingin jalan gue aja. Aawww misi-missi. Bruukkk. Haaaa yaaammmpun maav yaa maa aaaa hah? Rivan? Yaampun sorry yaa sorry ga sengaja gue”

Shasi yang sudah mendapatkan makanan pesanannya, hendak berjalan menuju meja yang sudah disepakatinya tadi bersama sari. Namun saat membawa pesanannya, kejadian yang tidak disangka. Tanpa di sengaja ia menabrak seorang cowok dari belakang dan ternyata itu rivan.

“eh shasi. Iya2 gpp koq, Cuma kena tumpahannya dikit aja. Gue ke kamar mandi dulu yaa bersihin ini”

“hem iya2 sekali lagi sorry banget yaa. Hem oiyaa,, eee  emmm  eemmm “

“iya gpp. Hem knapa lagi si?”

“emm mau nanyain nih ntar jadi pulang bareng gak ya. Gue kan ngarep banget. Kalo sampe gajadi gimana yaa? Ah tapi masa gue yang Tanya duluan. Gue kan cewek. Tengsiin boo.”  Dumelnya dalam hati.

“helllooow. Si? Shasi? Kamu kenapa? Koq diem? Tadi mau ngomong apa”

“hemm ee eehh eemm ngga dh gajadi. Gpp koq heheeh”

Shasi pun buyar akan lamunannya saat rivan menegurnya dan melambaikan tangan di depan wajahnya.

“ohee dasar kamu shasi. Aku kira ada apa. Yaudah aku kesana dulu yaa. Byeee”

“yah yaaaahhh jangan pergi dulu dong. Nengok kek nengok. Gue ngarep lo ngomongin soal yang nanti siang nih. Eh ehh tuhkan berentii, satuu… duuaa…. Tiii….”

“hem oyaa si. Nanti siang jadi kan?”

“YESYESYESSS tuhkaan dya nengok juga. Apa gue bilang. Pasti dya minta kepastian nanti siang jadi pulang bareng apa ngga,. Yeeessss kartu ijoo nih buat gueee. Yesyesyeeeeesss 🙂

“helloooo shasi??? Koq kamu bengong lagi sih? Nanti jadi mau pulang bareng aku apa ngga nih?”

“eee eeee ehh iya2 sorry. Hem apa tadi? Oh emm nanti siang ya? Iyaa jadi koq. Aku bisa pulang bareng kamu. Kebetulan nanti gaada rencana pulang sekolah hehee”

Sambil sedikit mengusap-usap kepalanya bertanda malu dihadapan rivan, shasi pun buyar dari lamunannya dan membalas perkataan rivan.

“oh. Okedeh. Oyaa ngomong2 rencana nanti siang, gimana kalo nanti kita mampir dulu ke toko buku. Mau gak?”

“hah. Hem boleh tuh. Kebetulan aku mau cari novel baru :)”

Ucap shasi sedikit beralasan.

“okedeh sampai ketemu nanti siang yaa. Byeee”

“byeeee :):)”

Rivan yang sudah berjalan mulai menjauh dari arah shasi, namun shasi tak berhenti menatapnya dari kejauhan.

“eh nih dya ni anak. Ngapain sih lo? Bengong liatin apaan cobaa? Ayookkk duduk makan! Wooyy. Shasiiiiii. Ih kenapa sih nih anak. Shasiiiiii wooooooyyy. Kok bengong. Liatin hantu kali yaa lo!!”

Sari datang menghampiri shasi yang sedang berdiri terpaku memperhatikan kepergian seseorang yang tidak sari tahu.

“ee eehh  iyaa iyaa. Ayuukk duduk”

Selalu begitu, terfokus dengan apa yang ada dipikirannya sehingga selalu tidak menyadari apa yang ada disekitarnya. Itulah shasi. Merekapun duduk di meja tempat mereka makan. Shasi pun mulai bercerita tentang apa yang sedang dirasakannya.

“eh tau gak knapa tadi gue diem berdiri disitu? Lo tau gak gue liatin siapa? Lo tau gak tadi gue abis ketemu sama siapa?”

“eh pelan2 dong neng nanyanyaa. Yaa mana gue tau lo ngeliatin siapa? Ketemu siapa? Emng siapa sih? Pasti cowok yg lagi lo taksir yaa? Waahhh payah lo gak cerita2”

“hahahha gatau deh sar, gue naksir apa nggak sama dya. Pkoknya tiap gue ketemu dya, rasanya tuh seneeeng bgt. Berbunga-bunga nih dada gue. Ehh salah deh. Maksudnya hati gue yang berbunga-bunga. Hehehe. Trus ntar juga gue mau pulang bareng dya. Dya ngajakin gue ke toko buku. Sumpah sahabat lo yg satu ini lagi seneeeeeeng bgtbgt nih sar hehe :)”

Sambil menyuap sedikit demi sedikit bakso yang ada dihadapannya, shasi bercerita dengan logat yang terpatah-patah karena menahan panas dan pedasnya kuah bakso yang sedang dinikmatinya.

“waahwaadduuuuh beneran lagi jatuh cinta yaa nih anak. Sama siapa sih emng? Payah lo ga cerita2 sm gue. Jangan2 lo lagi deket sama ryan anak kelas 1 yg planga-plongo itu yaa?? Hayoo ngaku? Hahahaha”

“dih gila yaa lo. Selera gue ga serendah itu kali. Najooong dah sm si ryan anak kelas satu yg masih  ingusan itu. Ada deh pkoknya ntar aja lo liat yaa pas pulang skolah hehehe”

“hahaha kirain gitu si selera lo mendadak merosot. Namanya siapa emng? Sok main rahasia2an ya lo sm gue sekarang!”

“yaudah ah liat aja nanti. Ayuuukk balik ke kelas. Mau minum air jeruk yg di buatin nyokab gue nih. Kepedesan nih guee”

“yaudahlaaah ayukkk.gue juga udahan nih makannya.  Tapi temenin ke koperasi dulu yaa beli teh botol”

Tak lama mereka meninggalkan kantin, bel masuk pun berbunyi.

“selamat siang anak2. Mari kita mulai pelajaran hari ini. Buka bukunya halaman 24 yaa”

Pak Listyono masuk ke kelas, karena saat itu sedang pelajaran IPA.

Dan pada kenyataannya, walaupun shasi anak pecinta alam. Ia tidak suka jam pelajaran ini. Sebenarnya si bukannya gak suka sama pelajarannya. Kalo IPA shasi suka banget dari SMP, apalagi kalo belajar tentang ilmu astronomi. Tapi karena dya gak suka sama gurunya, jadi sekarang wibawa shasi untuk belajar IPA pun berkurang semenjak bertemu guru IPA yang rada bokeb itu . ckckck.

Menghabiskan waktu dengan sia2 karena dari tadi shasi tidak memperhatikan apa yg di jelaskan gurunya saat belajar. Terus melamun, merenung, menunggu hingga bel pulang tiba.

Waktu yang dinantinya pun datang, seakan layaknya seorang yang sedang mengikuti perlombaan, berharap cepat sampai ke garis finish, dan akhirnya menjadi seorang pemenang. Mendengar bel pulang, shasi pun langsung bergegas merapihkan buku2nya. Merasa tak mau rencana siang ini gagal karena ia telat menemui rivan.

“ayooo dong sari cepeet. Ntar kalo lama2 malah dya pulang duluan deh. Ayookkk lama bgt sih. Ehh ke kamar mandi dulu yaa. Mau ngaca sebentar. Kalo muka dekil kan malu. Maklum lah perempuan. Hehehe”

“iyaa iyaa shasi sabar dong. Ini juga udah selesai. Yaudah yuuukk ah”

Meninggalkan ruang kelas mereka menuju kamar mandi untuk merapihkan penampilan sedikit, dan menuju gerbang sekolah. Dilihatnya oleh shasi, rivan sudah menunggu di gerbang sekolah dekat pos satpam. Dan shasi pun menghampirinya bersama sari

“hay rivan. Sorry, lama nunggu yaa?”

“hemm ngga ko gpp. Aku juga baru datang. Yaudah yuukk. Hem ini temen kamu mau ikut juga yaa?”

“eh heemm oya lupaa. Kenalin ini temen aku sari. Sar ini rivan. Ngga ko sari ga ikut kita. Dya pulang sendiri! Iyaa kan sar??”

Shasi memandang kearah sari mengedipkan sebelah matanya seakan member isyarat untuk mengiyakan ucapannya.

“eehh emm iyaa iyaa gue ga ikut kalian ko. Tenang aja. Heheh. Oh jadi ini toh anaknya. Lo kelas satu kan? Anak pecinta alam juga kan?”

“huss udah ah sar. Banyak nanya lo mah. Gue jalan dulu yaa. Byeee sariii J”

Tanpa hiraukan ucapan sari tadi, shasi pun langsung bergegas meninggalkan sari saat itu tak lupa juga rivan di bawanya pergi.

“dih songong nih anak. Eh shasi tungguuu!! Wuuuu dasar kalo udah ada gebetan aja. Gue ditinggalin. Have fun deh yaa kalian-_-“

Gerbang sekolah terbuka, seakan menjadi saksi melihat kepergian shasi meninggalkan sari bersama rivan.

“van, kita mau ke mana nih?”
“ke toko gunung agung di sarina aja yuukk. Eeehhh”

Seakan berjodoh, mereka bicara bersamaan mengucap tempat yang akan mereka tuju.

Mereka pun saling tersenyum tersipu malu. Dengan wajah shasi yang seperti biasa, terlihat merah saat sedang maluu.

“eh koq bareng sih ngomongnya. Kayak orang pacaran yg jodoh aja. Hehehe”

“hahaha iya yaa van, kebetulan aja kali yaa J”

Banyak pembicaraan di antara mereka saat dijalan menuju toko buku yang akan mereka datangi.

Tak lebih dari satu jam, merekapun sampai ke tempat tujuan mereka.

“kita langsung ke tempat novel yukk. Aku mau cari novel karangan stephani meyer yang baru nih”

“oh yaudah ayuukk.”

“buku barunya judulnya secret love kan?”

Wow tak di duga. Untuk yang kedua kalinya mereka mengucap kalimat yang sama dalam waktu yang sama pula.

“eh koq bareng lagi sih ngomongnya. Kamu bisa baca pikiran aku yaa van?”

“hahaha ada2 aja kamu si. Mana aku tau. Beneran jodoh kali nih :)”

“hahaha apaan jodoh, pengen banget berjodoh sama aku yaa kamu van? Hehehe bercanda”

“yeee manee dooh :p  hahaha”

Hari itu mereka habiskan dengan ledekan satu sama lain. Tanpa mereka sadari waktu pun mulai sore. Dengan perasaan senang, mereka tinggalkkan toko buku itu setelah mereka menemukan buku yang mereka cari.

“eh udah sampe rumah. Mau mampir dulu kamu van?”

“hem gausah deh aku langsung balik aja. Makasih yaa buat sore ini :)”

“oh yaudah. Loh loh koq kamu sih yg bilang makasih. Harusnya aku dong, karena kamu udah nganterin aku pulang dan cari buku yang aku cari. Nah kamu?? Makasih untuk apa?”
“heem hehe. Yaa makasih aja. Makasih udah buat sore ini jadi ceriaa. Aku seneng jalan sama kamu J yaudah yaa. Byeeee. Nanti smsan yaa J”

“ohhe iyaa samasama deh. Okee byeee. Hati hati yaa sipit dijalaan :)“

“heh dibilang sipit. Wuuuu tau deh yg matanya beloooo.”

“hahaha kan becanda cinaaa. Woooo :p”

“dih nambah ngatain cina lagi -_- ga nyadar apa? Kamu kan cina jugaa. Wooo”

“hahaha iya iyaa yaudah sana pulang nanti kesorean. Byeee 🙂 “

“okee byee :)”

Tiupan angin yang mengibas rambut panjang shasi, menambah kelihatan manis dengan senyuman yang mengiringi perpisahan mereka sore itu.

**malamnya**

Udara segar malam hari itu. memberi sejuk dengan setiap hembusan anginnya yang bertiup.

Shasi yang sedang asiiikkk memainkan game di kamarnya itu. Tiba-tiba beralih ke suara hapenya yang bergetar .

RIVAN HENDRA is CALLING . . . . .

Oh, ternyata rivan menelfonnya.

“halloo van. Maav yaa angkatnya lama. Tadi lagi main game. Hehehe. Ada apa?”

“oh iya iyaa gpp koq. Cuma mau telponan aja. Kangen sama suara kamu hehehe”

“hahaha bisa aja kamu van, baru juga tadi sore ketemu. Udah kangen aja. Lagian kayak orang pacaran aja kangen-kangenan 😛 “

“hehehe iyaa gpp dong :p”

Merekapun terus asyyiiiikkk berbicara melalui telepon. Tanpa terasa hari pun sudah larut malam.

Semenjak awal kenal melalui kelompok pecinta alam, semenjak itu pun hubungan antara kedua buah muda ini semakin dekat. Sering pulang bareng, jalan, smsan, tlponan. Sampai akhirnya, perasaan yang berbeda timbul diantara mereka satu sama lain. Rivan yang sangat perhatian dengan shasi.  Shasi pun juga merasakan kenyamanan saat berada didekat rivan. Tak terasa mereka jalani semuanya, sudah memasuki minggu ke tiga. Kata sayang, kata cinta, terukir dari mulut masing-masing. Dan shasi pun lama-lama menyadari, bahwa hubungan mereka semakin dekat satu sama lain, tapi mengapa rivan tak memberi syarat apapun tentang apa arti kedekatan mereka selama ini ???

**paginya di sekolah**

“heey si. Pagi-pagi cemberut aja. Kenapa? Lagi berantem yaa sama rivan?”
sapa sari pagi itu saat melihat shasi memasuki kelas dengan wajah yang sedikit muram.

“ahh gue gpp koq sar. Cuma lagi bingung aja antara hubungan gue sama rivan. Kenapa sampe skrg dya belum nembak gue juga yaa? Apa dya sebenernya gapernah suka sama gue? Terus arti kedekatan kita selama ini apa dong?”

“oh itu. Huss gausah neting lah. Mungkin dya belum nemuin waktu yang pas buat nyatain perasaannya ke lo. Kalo ngga, lo aja yang minta kepastian duluan ke dya. Lo Tanya ke dya. Dya anggep lo apa? Dya serius gak sama lo?” ucap sari begitu meyakinkan saat mengibaskan rambutnya yang masih basah .

“wew nyantai dong. Yaudah nnti malam pasti dya tlp gue. Gue Tanya aja kali ya sar? Eh tapi malu ah. Gue kan cwek. Seakan-akan kayaknya gue ngarep banget gitu”

“yaaa terserah lo sih. Yaudah ah gausah dipikirin. Pagi-pagi pikirin cowok. Kantin yuk ah, gue belum sarapan nih. Hehe”

Merekapun meninggalkan ruang kelas, begitupun mereka  mengakhiri pembicaraan tentang rivan pagi itu.

Aktivitas seperti biasa dilakukan shasi di sekolah.

**malamnya**

Gemerlap sinar bintang benderang. Di satu ruangan dalam rumah bernomor 24. Kamar dengan nuansa hijau, berpola mickey mouse. Ya, begitulah kiranya keadaan kamar shasi. Dengan menikmati novel kesayangannya, itullah salah satu cara menghabiskan waktu malamnya. Ditemani segelas susu hangat, dengan melodi musik suara sang idola avril lavigne. Shasi memang lebih suka berdiam diri menghabiskan waktu malamnya dikamar, terkadang merenung berimajinasi sendiri, menulis, ataupun membaca buku, lebih tepatnya membaca novel. Dari meja belajarnya yang dipenuhi komik, dan berbagai majalah, suara getar hape shasi bordering.

RIVAN IS CALLING …..

“hay .. “ sapa rivan membuka pembicaraan malam itu .

“emm hay juga van. Ada apa?” jawab shasi yang sedang asiknya membaca novel, namun ditinggalan karna rivan menghubunginya .

“gpp koq, aku Cuma mau ngobrol aja. Kamu lagi apa? Aku ganggu ya?”

“oh gitu. Aku lagi nyantai aja dikamar. Ngga ko ga ganggu :)”

Satu sisi shasi senang, malam itu rivan menelfonnya lagi. Di sisi lain, rasa bingungnya terhadap arti dari hubungan ini masih menghantuinya. Beberapa menit bercakap-cakap dengan rivan, mulutnya tak kunjung lantang untuk menanyakan apa yang selalu dipikirkannya. Setengah jam berlalu, malam yang dingin terasa hangat dengan setiap kata-kata rivan yang membuat shasi senang.

“oyaa van, aku boleh Tanya sesuatu gak?” tanyanya mulai memberanikan diri .

“boleh lah. Mau nanya apa? Oh kamu mau Tanya ultah aku yaa? Ultah aku minggu depan. Pasti mau kasih kado yaa? Okee aku tunggu yaa J hehehe. Becanda deng. Kamu mau Tanya apa ?” jawab rivan dengan candaannya yang memang selalu membuat shasi tersenyum dan merasa nyaman berhubungan dengannya.

“lah dasar kamu. Eh tapi emngnya bener ya ultah kamu minggu depan?” Tanya shasi meminta kepastian atas apa yang di ucapkan rivan .

“iyaa bener hehehe”

“wiihh kamu harus traktir aku  yaaa. Nanti aku kasih kado apa ya? Heemmm”

“hahaha iya gampang nnti aku teraktir deh. Oyaa tadi katanya kamu mau nanya ke aku. Mau Tanya apa shi?”

“hem oiyaa ya. Hem . sebenernya. Emmm aku? Hem aku mau Tanya? Emm” jawabnya gugup, rivan pun merasa aneh dan penasaran.

“yee kenapa? Mau Tanya apa sih emang? Ngomong aja?”

“hem gini van. Aku mau Tanya. Sebenernya kamu anggep aku apa sih? Pacar? Atau apa?”

Degup jantung shasi terasa berdetak lebih kencang dari biasanya, gugup, deg-degan, semua rasa bercampur aduk dalam hati dan pikirannya. Menggigit bibirnya, memikirkan kalau ternyata sebenarnya rivan tak mempunyai sesuatu yang khusus atas semua hubungan ini, memikirkan kalau ternyata yang terjadi tak sesuai dengan harapannya.

“oh, hem.. mau kamu apa?”

“kan aku yang Tanya. Ko kamu malah balik nanya?”

Jawabnya dengan nada yang sedikit kesal, karena dya merasa rivan tidak menganggapnya serius.

“gimana kalo kamu nyatain perasaan kamu ke aku minggu depan pas hari ultah kamu. Aku butuh satu kepastian atas kedekatan kita ini” ucapnya lagi pada rivan.

Sebentar rivan terdiam, mencoba meresapi apa yang di maksud shasi, apa yang di inginkan shasi agar tidak terjadi kesalahpahaman .

“yaudah. Aku bakal nyatain semuanya minggu depan pas hari ultah aku yaa. Sebenernya aku sayang kamu shasi”

Jrengjengjeeeng. Kembali rivan ucapkan kata sayang, membuat hati dan perasaan shasi semakin bingung, namun senang juga.

“yaudah kalo kamu sayang aku. Kamu buktiin ke aku, gimana pun caranya, buat aku yakin dan percaya sepenuhnya sama kamu”

“iya aku janji sama kamu. Aku bakal buktiin kalo aku sayang sama kamu. Sejak awal kita ketemu, sejak aku gabung di komunitas pecinta alam. Aku liat kamu. Kamu baik, kamu asik, kamu lucu. Lama-lama ternyata aku suka sama kamu. Lama-lama rasa sayang ini mulai terukir”

Malam yang terasa amat sangat indah. Indah rasanya, di sayangi oleh orang yang kita sayang juga.

Awan hitam gelap seakan tak sejalan dengan hati shasi yang sedang bersinar malam itu. Hujan rintik pun mulai turun berjatuhan ke bumi. Shasipun menikmati suasana malam saat itu. Begitu juga rivan. Suara gemercik air hujan, seakan melantunkan nyanyian cinta pada mereka. Sejenak shasi terdiam, tak tahu harus berkata apa. Hanya bisa tersenyum dibalik telepon, dan rivan pun hanya bisa terdiam menunggu jawab dari shasi. Menatap kelangit luas, keduanya merasakan satu keindahan yang Tuhan ciptakan.

“aku juga sayang sama kamu van. Sejak baksos bareng anak-anak pecinta alam waktu itu. Aku suka kamu. Lama-lama kamu deketin aku. Lama-lama aku sayang kamu”

Hujan turun semakin deras, angin malam bertiup semakin dingin. Shasi menatap keluar jendela, sudah lama ia tak merasakan hal seperti ini lagi. Setelah rapuh cintanya pada cinta pertamanya. Merasakan dicintai, disayangi lagi.

Haripun terus berjalan mengikuti waktunya. Seperti aliran air dilaut yang terus mengalir dan mengalir. Entah berapa gelombang yang dihasilkannya, selama masih ada celah untuk mengalir, tanpa hiraukan angin yang menyapunya juga, air luatan terus saja mengalir. Seperti hidup shasi, yang hatinya kini menggebu-gebu dilanda asmara. Memang cinta itu indah. Hari yang dijalani seperti tak biasanya. Seakan selalu menyambutnya dengan senyuman dipagi hari, cintapun meninabobokannya ketika malam tiba. Perasaan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang tertentu. Oleh orang-orang beruntung yang dapat merasakannya, seperti shasi.

Tinggal hitungan hari, menjelang ulang tahun rivan.

“eh cha, gimana dong nih beli kado apa gue buat rivan?”

Shasi bertemu teman lamanya di sebuah kafe. Icha. Yaa, teman SDnya yang sudah lama tak jumpa. Dan sekarang bertemu lagi, saling bercerita satu sama lain, saling bertukar pikiran.

“wuu tau deh yang lagi jatuh cinta. Hem hobby dya apa emang? Atau ngga lo beliin jam tangan aja shi”

“hobby dya sih main basket cha. Oyaa jam tangan yaa? Boleh juga tuh. Oh atau gue beliin dya basket aja kali yaa sama jam tangan. Hehe”

“banyak amat shi. Salah satu aja cukup kali. Yaudah yuukk ah caaw”

“ah bodo. Biarin lah setahun sekali hehe. Gue mau beli handuk basket juga deh ah. Terus nanti gue mau jahit, gue ukir nama kita berdua deh. So sweet kan ya guee 🙂 hhahahah”

“woo biasanya tuh yaa cowok yang so sweet, yang bikin surprise. Nah ini malah ceweknya. Aneh2 aja lo shi”

“hehehe biarin. Biar dya tau seberapa besar rasa sayang gue ini. Biar dya selalu inget gue juga kalo liat barang2 pemberian gue itu. Hehehe”

“huuuu bisaaaa aja lo yaa. Ckck”

“hehe yukk ah cabut ke toko sport dulu cari bola sama handuknya”

Dengan semangat ’45 shasi bergegas mencari barang-barang yang akan di hadiahkannya pada saat ulang tahun rivan. Itulah cinta. Tak dilihat seberapa besar nilai barang yang diberikan, tapi selalu mengedepankan seberapa besar pengorbanan dan ketulusannya untuk memberikan semuanya itu.

**besoknya disekolah**

“eh shi. Gimana persiapannya buat ultah rivan lusa?”
“beres dong. Gue udah beli beberapa kado buat dya. Hati gue juga udah siap buat nerima apa yang bakal rivan ucapin nanti. Hehehe. Oyaa tinggal jahit handuknya ajanih, mungkin nanti malam bakal gue kerjain”

“ejiiieee udah prepare banget lu kayaknya. Trus surprisenya apa aja tuh selain itu?”

“oiyaaa gue juga mau rencanain ceplokin dya nih. Gue juga mau minta bantuan temen sekelasnya bat ngerjain dya hahaha”

“wahaha parah juga lo. Tapi gapapa., seru tuh pasti”

“hahaha iya dong. Pokoknya gue bakal buat ultah dya berkesan kali ini karena gue, gue juga berharap dya selalu inget gue, selalu inget apa yang udah gue lakuin buat dya. Gue mau orang-orang yang gue sayang selalu inget sama gue. Meskipun mungkin nanti kita akan berpisah. Tapi selagi mereka ada disamping gue, gue bakalan ngasih yang terbaik buat mereka :)”

“et et eeett sahabat gue yang satu ini sweety banget sih. Lu tipe cewek yang setia shi. Lo pantes buat dapetin yang terbaik, karna lo anak yang baik. Gue doain semoga rivan gak ngasih luka lagi yaa dihati lo kayak cowok-cowok kurang ajar yang dulu pernah nyakitin lo :)”

“hem iya sar. Makasih yaa, lo emang sahabat terbaik gue. Lo selalu ada buat guee. Sayang deh ih sama kamyuuuuu. Muuuaahhhueuhuehuee :)”

“ih ih cucooook deh lo. Sayang sama gue atau sama rivan nih? Hahhhah canda deeh :)”

“sayang dua duanya deh. Sayang mamah papah jugaa. Hahahahaha”

Persahabatan yang erat diantara mereka, lebih indah dari apapun yang ada di dunia ini. Cinta juga indah, tetapi terkadang cinta itu bisa memberikan luka karena hati kita memilih pilihan yang salah, tapi sebuah persahabatan tak akan pernah sedikitpun membiarkan air mata jatuh mengalir karena sahabat tak akan melukai, itupun jika tak ada pengkhianatan yang terjadi.

Seharian ini tak bertemu rivan disekolah. Shasi merasa sedikit bingung, dan sedikit tidak bersemangat bersekolah. Sejak istirahat pertama, dya hanya duduk bermalas-malasan diruang kelas karena ia tahu rivan sedang absen sekolah karena penyakit maagnya sedang kambuh.

**malamnya**

Menulis diary. Kebiasaan yang sudah lama tidak dilakukan shasi sejak masa-masa SMPnya. Kini ia pun mencoba untuk mengulangnya lagi. Mulai menulis setiap ungkapan yang ada dipikirannya.  Dya buka cerita-cerita lama tentang kisahnya yang ia tuangkan dalam diary bercover mickey mouse kesayangannya.

“huuhh. Kok rivan ga telon gue yaa. Apa dya tidur cepet ya malam ini?  Dya kan lagi sakit. Hem atau malah dya lupa sama gue. Ah masasih. Yaudah deh gue sms dya duluan malam ini”

Ucapnya pada dirinya sendiri. Pikirannya sejenak beralih mengingat rivan dan niatnya untuk sms rivan duluan saat itu.

“hay van. Kamu lagi apa? Masih sakit yaa? Kok ga ngabarin aku seharian ini. Atau udah lupa yaa sama aku u,u “

SENDING . . . . . .

Tenneettt ,,

Bunyi hapenya bertanda ada pesan masuk .

1 new message .

“shi hari senin jangan lupa bawa buku catatan gue yaa. Okeeeh”

Semu harapannya mulai rapuh karena ternyata pesan yang masuk itu dari temannya, sari, bukan dari rivan.

Hhuuuhhh sms dari sari toh. Gue kira rivan. Apa rivan udah beneran lupa yaa sama gue, sampe2 gue sms aja ga dibales L

Mulai bertanya-tanya dalam hati dan kebingungan.  Berharap mendapat balasan dari rivan. Perasaannya mulai gundah dan dirinya mulai yakin, karena mungkin ternyata memang benar bahwa rivan sudah melupakannya.

Yaampun, masa gue harus ngerasaain sakit ini lagi sih. Harus kehilangan orang-orang yang gue sayang untuk yang kesekian kalinya. Apa emang gue ga pantes untuk dapetin orang-orang yang gue sayang kali yaa? Oh Tuhan L

Mulai merasa putus ada. Shasi mulai meneteskan air matanya. Sampai akhirnya dering hapenya berbunyi.

Hem palingan bukan balesan dari rivan. Desahnya dalam hati.

Dengan sedikit lemas menggapai telepon genggamnya yang ia letakan diatas meja belajar itu. Ia pun mengusap air matanya yang sempat mengalir tadi.

“hay shi. Iyaa maav yaa, aku baru isi pulsa lagi nih. Keadaan aku udah mendingan kok, makasih yaa udah khawatirin aku. Ih ngomong apasih kamu. Mana mungkin aku lupa sama kamu. Malah dari siang aku kepikiran kamu terus tau. Hehee. Kangen deh. Ketemuan yuuk besok. Kita jalan-jalan sore aja nanti aku kerumah kamu deh yaa. See youuuu shasi J”

Senyum simpul mulai menghiasi wajah manisnya itu. Dengan riang dibacanya pesan masuk yang ternyata balasan dari rivan itu.

Hiruk pikuk nyiur angin malam melambai, menuntunnya menuju mimpinya dikala malam tiba.

Hari ini hari libur sekolah. Hari yang selalu disambut dengan riang oleh para pelajar. Begitupun shasi. Terlebih ingat akan rencananya hari ini. Rivan yang berjanji untuk main ke rumahnya, mengajaknya untuk berjalan-jalan sore.

Heemmm seperti pemuda biasanya, yang selalu bermalas-malasan ketika hari libur. Shasi yang terlarut dalam tidur panjangnya itu, sampai tak tersadar hari sudah siang pun dya belum beranjak dari tempat tidurnya.

Ini kan hari libur mah, shasi gaada kegiatan apa-apa.

Itulah alasan yang keluar dari mulutnya tiap kali mamanya membangunkanya dari tidur.

Krriiiiiiiiinnngggg . . . .

Tepat jam 2 siang jam weker berbentuk wajah mickey mousenya berbunyi.

Alamak yaampun udah jam 2. Gue ka nada janji jam 3 sore ini sama rivan. Adududuuuuh -_-

Dengan setengah nyawanya shasi memasuki kamar mandi. Membersihkan dan mempersiapkan diri untuk kedatangan rivan sore itu. Seperti orang penting aja sampe segitunya ckck. Eh eh tapi emang bener sih, rivan kan orang penting dalam hatinya. Wuhuuuuu.

Tiiiuuutt tiiuuuutt . . .

Aduuuuh ia tunggu-tunggu, gatau apa orang baru selesai mandi nih. Huuuu

Desahnya saat mendengar hapenya bunyi bertanda ada pesan masuk, dan cepat bergegas keluar dari kamar mandi karena pikirnya itu pesan masuk dari rivan. Dan ternyata . . .

“shasi. Aku on the way nih. 15menit lagi aku sampai sana ya. Aku tunggu di ujung jalan rumah kamu aja yaa. See youuuu J”

Yaap. Benar adanya, ternyata itu pesan masuk dari rivan.

Shasi pun bersiap-siap. Memakai pakaian yang membuatnya merasa nyaman dan menarik pula di hadapan rivan. Celana jeans pendek ia kenakan, karena pikirnya kan mau berjalan-jalan sore, agar lebih nyantai dan nggk kelihatan prepare banget karna mau ketemu rivan, padahal sih jaga penampilan banget dya. Meskipun dengan pakaian santainya, namun ia persiapkan dirinya untuk kelihatan menarik dibalik kesederhanaannya.

Shasi pun siap berangkat, rivan juga sudah menunggunya di tempat mereka janjian.

“hay shi :)”
“hay juga rivan :)”

Mereka saling menyapa satu sama lain .

“yaudah yuukk jalan, kita ke taman aja yang deket belakang komplek yaa”

“oh yaudah ayuuuk :)”

Bergegas berjalan menuju taman yang ada dibelakang komplek perumahan tempat shasi tinggal.

Setiap langkah kaki mereka lewatin dengan nikmat, seakan dunia milik berdua. Dengan bergandeng tangan mereka telusuri setiap jalan yang ada. Sambil berbincang-bincang hal-hal yang sebenarnya tak begitu penting. Tapi inilah cintaa. Membuat yang biasa menjadi luar biasa, yang tak penting seakan-akan menjadi penting ^_^

Sampailah mereka pada tempat tujuannya.

“hem mau minum apa shi?”
“apa aja deh terserah kamu aku ikut aja hehe”

“oh yaudah kalo gitu aku ambilin air comberan dulu yaa 🙂 hahah canda deh”

“huuu ga segitunya kali van -_-“

“iyaa iyaa aku kan becanda peseek. Hahha”
“yeeee pake ngatain lagii. Dasaar cinaaa :p”

“hehehe yaudah tunggu sebentar yaa. Aku beli minuman dulu”

“okeeee”

Beberapa menit kemudian rivan tiba dengan minuman yang sudah dibelinya tadi.

“nih shi. Selamat menikmati minuman dengan butiran cintaku 🙂 hahaha”

“wkwkwk lebay kamu van. Apa bedanya minuman ini dengan yang lainnya? Sama-sama rasa coca-cola kan :p”

“weetss beda dong. Kalo yang ini kan tadi udah aku jampe-jampe pake ramuan cinta dari mulut aku :p hahaha”

“hahaha kayak dukun aja kamu van pake jampe-jampe segala :p”

“hehehe. Oiyaa shi, aku baru sadar deh. Tanggal hari ini bagus loh. Unik deeh :)”

“hem bagus gimana van? Emang hari ini tanggal berapa? Oh atau hari ini bagus karna besok hari ulang tahun kamu ya? Wuuu dasar cipit :p”

“yee ngga kok. Aku serius. Tanggalnya unik. Tanggal 09 10 11 :)”

“weeww 09 10 11. Kayak urutan nomor gitu yaa. Hahaha iyaa yaa uniik :)”

“bener kan. Ehh gimana kalo kita jadian sekarang aja? Mau gak?”

“apa? Maksudnya kamu nembak aku nih sekarang???”
dengan sedikit kebingungan shasi mulai meresapi perkataan rivan tadi.

“iyaa. Kamu mau kan jadi pacar aku sekarang? Gausah nunggu besok pas ulang tahun aku”

Diam sejenak menyelimuti mereka sore itu. Shasi seakan-akan meyakinkan diri pada apa yang diucapkan rivan tadi. Meskipun terlihat sedikit tidak serius, karena hanya karna melihat tanggal yang unik, rivan menembaknya begitu saja. Namun disisi lain ada perasaan yang meyakinkan shasi karena sebenarnya rivan memang serius untuk berpacaran dengannya, karena yang ia tahu, rivan pun menyayanginya seperti ia menyayangi rivan.

“hey shi. Kok kamu ga jawab-jawab pertanyaan aku sih dari tadi? Gimana? Kamu mau ga jadi pacar aku? Aku gaakan biarin kamu masuk rumah sampai aku denger jawaban dari kamu”

Rivan merangkul shasi saat jalan pulang menuju rumah shasi. Ia menggenggam erat kedua tangan shasi dan meminta jawaban pada shasi atas apa yang di ucapkannya tadi.

“hem iya-iya aku mau kok jadi pacar kamu. Lagian masa nyatainnya gitu banget deh. Kayak main-main. Huuu”

“hehehe serius nih? Iyadeh maav yaa. Tapi aku serius kok? Ga main-main :)”

“iya-iyaa aku percaya. Yaudah sana pulang. Hati-hati yaa :)”

“yaudah aku pulang dulu yaa. Makasih yaa untuk sore ini :)”

“iyaa sama-samaa :)”

Hari ini berlalu dengan sukacita yang shasi rasakan. Perasaan ketidakjelasannya akan hubungan mereka selama ini, dan rivan pun memberi kepastian sore itu.

***

Tok tok…

Shasi, ini mama sayang. Makan malam dulu yuukk nak?

Terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar shasi, di bukanya ternyata mamanya yang membawakan makan malam untuknya setelah melihat ia yang kelihatan sibuk dengan kerjaannya dikamar.

Malam itu tidak mereka lalui seperti biasanya. Yang biasa shasi dan rivan habiskan untuk berbicara melalui telepon hingga larut malam. Tapi malam itu shasi lebih memilih untuk smsan saja.

aku lagi bantuin mama. Jadi gabisa otp’an dulu yaa malam ini.

Sending to RIVAN . . . . .

Itulah alasan yang di buat-buat shasi, padahal ia punya rencana sendiri. Menjahit handuk untuk kado ulang tahun rivan. Yaa , itulah rencana yang akan ia lakukan malam itu. Sedikit berbohong pada kekasihnya. Berhubung besok adalah ulang tahun rivan sang pacar, ia mau menyiapkan semuanya dengan sesempurna mungkin. Ia mulai menjahit, mengukir sebuah nama pada handuk yang akan ia berikan pada rivan besok saat ulang tahunnya. M ❤ M. itulah nama yang diukirnya pada ujung sisi handuk yang akan di berikannya. Itu merupakan inisial nama panggilan mereka berdua semenjak kedekatan mereka.

Entah mengapa shasi merasakan kalau dia begitu menyayangi rivan, dan ia sungguh yakin bahwa rivan terlahir untuknya, begitupun sebaliknya. Dya begitu yakin bahwa mereka berdua terlahir untuk saling memiliki satu sama lain.

Mungkin benar adanya, cinta itu buta. Tidak memandang umur, tidak memandang berapa lama mengenal satu sama lain, tidak memandang apapun yang terjadi dimasa lalu, saat ada keyakinan dalam diri masing-masing dan saling percaya, itulah cinta.

Shasi benar-benar serius mengerjakan kado yang akan ia berikan pada rivan kekasihnya itu.  Ia yang tidak gemar dan tidak mahir menjahit, mencoba perlahan-lahan untuk membuat ukiran nama itu dihanduknya menjadi semenarik mungkin. Tangannya pun tak kalah sakit saat sedikit demi sedikit jarum jahit yang ia pegang menusuk jarinya. Wuuww, sakit mungkin. Tapi tak ia hiraukan rasa sakit itu, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya untuk membuat semuanya menjadi special untuk kekasih yang ia sayangi.

Hingga larut malam, pekerjaannya pun belum selesai.

Dilihatnya jam dinding yang terus berdetak menunjukkan waktu sudah pukul tepat jam 00:01 tengah malam. Shasi mengambil telepon genggamnya dan mengirimkan seuntai kata ucapan selamat ulang tahun untuk kekasihnya rivan.

Happy birthday cipit sayang 🙂

Bertambah umur, semoga bertambah juga Iman kamu dalam Kristus 🙂

Semoga makin sipit yaa, eh salah makin belo deh hehe :p

Makin sayang sama aku, semoga kitanya langgeng yaa. Muahuehuehue :*

ILYSMCH (iloveyousomuch)

Sending to rivan . . . .

Tiiuut tiiuuut.

Rivan yang terbangun dari tidurnya setelah beberapa menit. Mendengar suara handphonenya bordering. Dibacanya pesan masuk dari shasi. Ia pun tersenyum simpul, senang menerima sms ucapan selamat ulang tahunnya. Dan shasi menjadi orang pertama yang mengucapkannya.

Yaa itulah  cinta. Selalu ingin menjadi terdahulu, selalu ingin menjadi yang pertama.

Rivan pun segera membalas pesannya itu pada shasi.

Tidiiit tidiiitt…

Iyaaa makasih yaa sayang.

Amiin. Semoga kitanya langgeng yaa 🙂

ILYTSMCH (iloveyoutosomuch)

Dengan tersenyum juga shasi membaca pesan masuk itu yang ternyata dari rivan.

***

Esoknya …

Senin 10-10-2011

Sepertinya cuaca siang ini cukup bersahabat untuk sebuah rencana yang akan dilakukan shasi.

Saat jam istirahat tiba, shasi bergegas pergi ke kelas rivan tanpa sepengetahuan rivan.

“dek. Sini deh ..”

Shasi memanggil salah seorang teman rivan yang kebetulan juga shasi mengenalnya.

“eh kak shasi. Ada apa kak? Cari rivan yaa? Yaaah rivannya ke kantin deh kayaknya kak”

“ssstt. Ngga kok k gk nyari rivan. Kk Cuma mau minta bantuan kamu sama teman-teman kamu? Boleh gak?”

“oh gitu. Emang mau minta tolong apa kak? Kalo bisa nanti aku bantu deh :D”

Shasi pun  mulai menjelaskan maksud dan tujuannya mendatangi kelas itu.

“gini dek. Hari ini kan rivan ulang tahun. Kamu mau gk sm temen-temen kamu bantuin kk buat ngerjain dya nanti pas pulang sekolah. Niatnya sih kk mau ceplokin dya gitu. Hehehe. Mau yaa dek? Bilang temen-temen kamu juga”

“hem oh gituu. Iyaa sih kak, aku sama temen-temen juga udah tau kalo dya hari ini ultah. Niatnya juga kita mau ngerjain dya gitu. Yaudah gabung aja kak”

“oh okee siippp. Nanti kan kk pulang bareng sama dya. Kk pancing dya ke depan gang yaa. Terus kamu sama temen-temen kamu harus udah siap disana yaa. Okee”

“okesiiip kak. Tenang aja sama ochaa :)”

“sip deh. Makasih yaa dek 😀 sampai nanti “

Shasi kembali ke kelas dengan riang,  karena ia merasa yakin rencananya hari ini akan berjalan dengan lancar.

Bel pulang pun berbunyi .

Rivan menemui shasi dikelasnya karena merekapun janjian untuk pulang bareng dan rivan juga berniat untuk menraktirnya nonton di hari ulang tahunnya ini.

“aduh kok firasat aku buruk ya nih kayaknya. Ada yang gak beres nih ?_?”

Sepertinya rivan menyadari rencana yang dibuat shasi dan teman-temannya itu.

“hah kenapa emangnya? Kamu nya aja kali yang nethink. Udah ah ayuukk”

“yakin? Kamu gak rencanain apa-apa kan? Heememm,”

“emmm heeemmm”

Shasi menahan sedikit tawanya, bingung harus berbuat apa dan akhirnya dya hanya menggeleng gelengkan kepalanya.

“tuh tuhkan. Muka kamu gak meyakinkan nih ah”

“loh kok kamu ngambek? Bener sih sumpeeh gaada apa-apa hehe 🙂 “

Shasi pun terus meyakinkan rivan yang melangkahkan kaki begitu pelan dan lirik kesana kemari memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi yang akan merugikannya.

Shasi pun berhasil membujuk kekasihnya itu sampai kedepan gerbang. Melihat teman-teman rivan yang sudah berkumpul didepan gang sekolah mereka, shasi memberikan kode dan aba-aba untuk mulai rencananya itu. Dan . . . . . .

Ploooookk ,,,

“hahaahaha kena lo van . selamat ulang tahun rivan :p”

“ah shit. Bener kan firasat guaa -_-“

Sedikit merasa kesal, karena bajunya yang kotor terkena pecahan telur yang dilempar ke kepalanya oleh temannya itu.

“hehehe  meev yaa sayang. Aku sedikit bohong heheh.”

Plooookkk ..

Lagi-lagi pecahan telur di tumpahkan ke kepalanya. Dan kali ini shasi, pacarnya sendiri yang melakukannya.

Satu persatu teman-temannya juga ikut memecahkan telur dan menuangkan air ke kepalanya.

Setelah semuanya selesai, shasi pun membantu rivan untuk membersihkan rubuhnya. Eiiittssss hayooo jangan kemana-mana pikirannya. Shasi hanya membantu rivan memberikan sabun dan pengharum tubuh untuk rivan, juga memberikan rivan baju ganti yang ternyata kebetulan rivan bawa saat itu.

Usai membersihkan tubuhnya, merekapun duduk sebentar di bangku depan sekolah.

Saat itu shasi mulai memberikan kado untuk ulang tahun pacarnya itu. Rasa kesal rivan pun sedikit pudar saat melihat sesuatu yang special yang di berikan kekasihnya itu. Rivanpun mengecup kening shasi dengan hangat. Sambil pamit pada shasi dan meminta maav karena hari itu acara nonton mereka terpaksa dibatalkan karena rivan pun mendadak punya janji dengan teman-temannya. Shasi pun merasa sedikit kesal, karena harusnya hari ini sepenuhnya menjadi hari mereka berdua. Tapi rivan malah lebih memilih pergi bersama teman-temannya itu.

Hemm… yasudahlaah …

“maav ya sayang” ucap rivan dengan sedikit rasa bersalahnya, mengecup pipi shasi yg berjalan didepannya.

***

Sudah tiga hari mereka lalui hubungan mereka yang semakin membaik. Dan rasa sayang antara satu sama lain pun semakin terasa. Beberapa teman-temannya pun juga sepertinya sudah mengetahui status antara mereka berdua. Selain karena mungkin terlihat mereka yang sering pulang bareng, mungkin juga teman-temannya tahu dari jejaring social facebook dan twitter. Rivan dan shasi pun seperti anak muda biasanya, suka mengumbar kemesraan mereka satu sama lain dalam akun twitter mereka. Hem anak muda jaman sekarang lah yaa :p

Esoknya. Tepat empat hari antara hubungan rivan dan shasi. Saat itu rivan tidak masuk sekolah. Dan seperti biasanya, ia tidak hadir karena penyakit maagnya kambuh. Disekolah pun shasi begitu mengkhawatirkan rivan.

***

Malampun kembali tiba. Dengan sapaan terang bulan dan bintang yang menderang. Hari itu merupakan hari yang amat sangat terasa lelah dirasakan oleh shasi. Sepulang sekolah tadi ia langsung bergegas masuk kamar, dan menikmati ranjang bermotif mickey mousenya itu dan tertidur diatasnya hingga larut malam.

Di tempat lain. Rivan yang kebingungan karena sejak pagi tak mendengar kabar dari shasi. Tidak bertemu shasi hari itu karena ketidakhadirannya disekolah.

Entah apa yang dipikirkan rivan. Pikiran-pikiran negative terlintas di benaknya. Pikiran bahwa apakah shasi sudah melupakannya? Sehingga ia tidak memperhatikan bahkan tidak memberikan kabar pada hari itu. Harusnya mereka bisa saling percaya satu sama lain, Karena cinta itu adalah kepercayaan satu sama lain.

Menunggu dan terus menunggu hingga larut malam. Dan shasi pun tidak memberikan kabar padanya.

Di kamarnya juga shasi tak lekas terbangun. Terlalu  padat aktivitasnya dan lelah yang ia rasakan hari itu, sampai lupa untuk mengabarkan kekasihnya.

Esoknya pun mereka bertemu di sekolah. Dan ternyata  rivan marah kepada shasi karena sikap shasi kemarin.

Awalnya shasi merasa bingung dan tidak menyadari  apa kesalahannya sehingga membuat rivan marah seperti itu. Rivan pun tidak mau diajak bicara dengan shasi. Pulang sekolah, shasi bertemu rivan di depan gerbang. Berpapasan dengan shasi, rivan pun tak menghiraukannya. Ia malah berjalan terus bersama teman-temannya seakan tak menghiraukan shasi yang ada di depannya itu. Shasi pun hanya wanita biasa yang punya perasaan, ia tak kuasa untuk menahan air matanya melihat kelakuan rivan yang seperti itu. Ketika itu, Irma salah satu teman rivan melihat shasi yang berlinang air mata.

“loh kak shasi ? kenapa nangis kak?”

Shasi pun berpaling dari hadapan Irma karena tidak mau dilihat Irma air matanya yang terus mengalir karena rivan. Ia pun bergegas pergi bersama sahabatnya sari dan tika menaiki kendaraan motor bertiga, karena saat itu pun shasi mempunyai janji untuk pergi berkunjung ke tempat PKLnya nanti.

Diujung jalan. Shasi melihat rivan kembali yang sedang menunggu bus bersama teman-temannya. Rivan pun melihat ke arahnya juga, namun shasi memalingkan hadapannya dari rivan. Ia tidak ingin rivan melihat air matanya yang masih mengalir saat itu.

“eh van .”

Sahut  Irma padanya saat melihatnya dari belakang.

“oiiyaa van tadi gue ketemu kak shasi. Dya abis nangis tuh kayaknya. Kenapa? Lo lagi ada masalah yaa sama dya?”

“hah? Shasi nangis? Serius lo ir?”

“iyaa gue serius”

Mendengar berita itu dari Irma. Rivan pun langsung mengambil telepon genggamnya dari saku celananya berniat untuk menghubungi shasi. Berkali-kali ia menghubungi nomor shasi, tak juga mendapatkan balasan.

Beberapa menit kemudian. Dering hapenya berbunyi, seakan member tahukan ada pesan masuk untuknya. Dilihatnya, ternyata shasi mengirimkan message padanya.

Hey. Ada apa kamu tlp aku? Maav tadi aku lagi dijalan. Aku lagi ketempat PKL aku di sunter. Nanti aku hubungin lagi yaa. Bye.

Di bacanya pesan dari shasi itu. Dan rivan pun segera membalasnya.

Hah? Kamu ke sunter? Bertiga? Naik motor?  dan Cuma pake helm satu?

Yaampun. Terserah deh. Tadi juga kenapa buang muka pas liat  aku didepan?

Kalau udah pulang, hubungin aku yaa. Aku mau kerumah kamu sore ini. Take care yaa. Byee.

Dari balasan pesan yang dikirimnya untuk shasi pun terlihat, bahwa rivan begitu khawatir pada shasi.

Sore itu rivan datang menemui shasi, bekaligus meminta penjelasan atas sifatnya kemarin.

Mereka berdua bertemu dan berbicara satu sama lain. Bingung ingin memulai pembicaraan dari mana, mereka berdua sama-sama berdiam diri sambil menelusuri setiap jalan yang mereka jalani, tanpa arah.

“kamu kenapa si? Kok marah sama aku? Salah aku apa?”
shasi memulai pembicaraan.

“hem iyaa. Maavin aku. Kemarin aku nethink sama kamu karena kamu gak hubungin aku seharian. Disitu aku bener-bener panik dan khawatir. Aku pikir kamu udah gak sayang dan gak peduli sama aku. Tapi sekarang aku udah gak marah kok :)”
“hem yaampun. Jadi kamu marah cuma karena hal itu. Aku tuh kemarin abis pulang sekolah langsung ketiduran di kamar. Jadi ga sempet hubungin kamu.  Maav yaa “

“hem iyaiyaa. Aku juga kan udah maavin kamu. Yaudah kita cari makanan aja yukk? Kamu belum makan kan?”

“hem iyaa. Yaudah. Kamu juga belum makan yaa? Hem kebiasaan nih cina!”

“yee kamu juga belum makan. Yaudah makan bareng yaa :)”

Kesalahpahaman antara mereka pun terselesaikan, keadaan kembali seperti semula. Namun ternyata, masalah baru pun datang. Saat shasi melihat foto perempuan pada layar hape rivan. Saat memintanya untuk melihat siapa wanita itu, rivan pun enggan untuk memberikan teleponnya pada shasi. Pikiran shasi mulai melayang-layang saat itu. Kesal karena baru saja baikan, udah bikin masalah lagi, pikirnya. Shasi berlari meninggalkan rivan, tidak percaya akan penjelasan rivan yang menjelaskan bahwa wanita itu adalah foto shasi. Namun shasi tak percaya padanya karena rivan tidak mau menunjukkan foto itu. Pikirnya, wanita yang ada disitu adalah mantan rivan. Dan rivan masih menyayangi mantan kekasihnya itu. Shasi berlari tanpa hiraukan rivan yang mengejarnya. Dengan rasa marah dan sangat cemburu ia terus berlari meninggalkan rivan. Sampai akhirnya rivan kualahan untuk mengejarnya dan ia pun berhasil menggapai tangan shasi. Namun apa daya. Shasi sudah begitu kesal dan langsung melepaskan genggaman rivan dari tangannya. Rivan pun lemas dan mengalah, dengan lesu ia kembali pulang. Karena pikirnya, tak ada guna menjelaskannya sekarang karena shasi dalam keadaan emosi, jadi percuma saja jika di jelaskan.

***

Malam ini udara terasa begitu sejuk. Angin bertiupan sangat kencang bertanda akan turun hujan. Dan ternyata benar. Sepertinya alam pun ikut merasakan apa yang shasi rasakan. Shasi masih terdiam di kamarnya sejak sore tadi dan enggan untuk keluar. Sekedar untuk makan malampun tidak. Ia hanya bisa diam dibalik jendela dan terus menatap langit yang seakan-akan berbicara padanya. Air matanya terus mengalir. Handphonenya ia diamkan mati begitu saja, sengaja agar rivan tidak bisa menghubunginya malam itu. Karena shasi pun masih merasa sangat kesal. Namun beberapa menit kemudian, pikirannya tiba-tiba berputar 180 derajat. Ia raih telepon genggamnya yang ia letakkan diatas meja belajarnya, ia tekan tombol untuk mengaktifkannya. Ada beberapa pesan yang masuk, salah satunya dari rivan yang ternyata  telah mencoba untuk menghubunginya selama 3x. hati dan pikiran shasi terasa sedikit lebih tenang. Ia mencoba untuk menghubungi rivan dan bersikap lebih terbuka untuk mendengarkan penjelasan dari rivan. Sebelum ia mencoba untuk langsung menelpon rivan, ia menyempatkan diri untuk membaca pesan dari rivan sebelumnya.

Aku minta maav. Sebenarnya aku bohong. Kamu benar, foto yang ada di wallpaper hape aku itu bukan kamu, tapi itu foto lady. Tapi sumpah aku gaada maksud apa-apa, niatnya aku Cuma mau ngetes kamu masih bener-bener sayang atau ngga sama aku. Dan ternyata, kamu tadi marah banget dan cemburu banget. Saat itu aku seneng banget, karena ternyata benar, sikap kamu marah banget tadi berarti kamu masih sayang sama aku. Please jangan marah lagi. Aku sayang banget sama kamu dan aku takut banget kehilangan kamu. Sumpah ini aku udah jujur. Please balas pesan ini dan maavin aku L

Shasi membuka pesan dari rivan yang kira-kira dikirim sudah dari satu jam yang lalu. Satu sisi shasi sudah mulai tenang karena rivan sudah jujur padanya. Itulah cinta, harus saling mengerti dan yang paling utama itu adalah sebuah kejujuran dalam satu hubungan. Namun kejujuran itu malah membuat shasi semakin bingung. Antara percaya atau tidak dengan alasan rivan yang hanya ingin membuatnya cemburu dengan foto lady, teman sekelas rivan yang rivan sukai sejak awal masuk sekolah. Shasi takut kalau ternyata rivan belum bisa melupakan lady dan masih ada perasaan pada lady.

Benar kan itu bukan foto aku. Oh ternyata masih suka yaa sama lady. Yaudah pacarin aja gih sana si lady. Ngapain kamu sama aku kalo ternyata di hati kamu masih ada lady!

Shasi membalas pesan dari rivan saat itu juga. Beberapa menit kemudian pun rivan membalasnya.

Sumpah aku udah gaada perasaan apa-apa sama lady. Sekarang aku Cuma sayang sama kamu. Aku takut banget kehilangan kamu. Jadi pleaseeee maavin aku 😦

Ngga semudah itu van untuk maavin sikap kamu yang kayak gini. Aku jadi bimbang sama perasaan ini. Sama hubungan yang baru kita jalin beberapa hari. Terserah kamu lah aku pusing, males!

Kamu gak percaya sama aku. Terus mau sampai kapan kamu marah sama aku kayak gini!

Aku gatau. Udah ah aku ngantuk dan mau tidur. Bye!

***

Satu hari mereka lalui tanpa ada hubungan satu sama lain. Rivan yang mencoba menghubungi shasi berkali-kali, namun shasi tidak seklaipun membalas bahkan menghiraukannya pun tidak. Entah mengapa shasi bersikap egois hanya karena masalah yang sekecil itu. Mungkin itu masalah besar anggapannya. Tapi saat rivan berkali-kali mencoba menjelaskan dan meminta maav, namun shasi tak kunjung memaavkannya. Lama-lama rivan pun jenuh terhadap sikap shasi yang mempunyai ego tinggi seperti itu. Hatinya mulai bimbang kembali. Ia memastikan berkali-kali, dan bertanya-tanya pada hatinya. Apakah masih ada perasaan untuk shasi? Atau di hatinya kini masih ada lady yang menempatinya?

Setelah seharian berlalu tanpa komunikasi yang lancar. Shasi pun mulai berfikir kalau sikapnya yang seperti ini, yang tidak memberi kepastian pada rivan, ini semua konyol dan seperti anak kecil. Malamnya ia mencoba menghubungi rivan, berniat untuk menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi. Namun ternyata kini pemikiran rivan sepertinya sedang berputar-putar, entah apa, entah mengapa dan bagaimana.

Van. Maavin aku yaa udah egois dan gamau maavin kamu kemarin. Padahal kamu udah mohon-mohon berkali-kali jelasin semuanya, tapi aku malah acuhin kamu. Aku minta maav yaa 😦

Apa? Setelah seharian kamu cuekin aku kayak tadi. Kamu udah anggep aku gaada yaa? Kamu pikir enak apa di giniin? Aku udah mohon-mohon minta maav sama kamu tapi kamunya malah gituin aku. Dan sekarang kamu datang ke aku mau minta maav. Kamu egois yaa! Aku minta maav kemarin sm kamu berkali-kali tapi kamu gak maavin aku. Dn sekarang? Apa aku harus maavin kamu? Kamu tuh egois!

Entah apa yang terjadi. Kini malah rivan yang marah pada shasi. Rivan merasa tidak suka dengan sikap shasi yang egois. Shasi pun juga merasakan hal yang sama. Rivan juga egois karena tidak mau memaavkannya. Namun di sisi lain shasi berfikir, memang awalnya dya yang salah karena tidak mau memberi kesempatan pada rivan. Namun kini saat ia datang untuk memperbaiki semuanya, malah rivan yang menutup hati untuk memaavkan shasi.

***

Dua hari kemudian.  Bingung karena ketidakjelasan antara hubungan mereka yang masih berstatus pacaran namun tidak ada komunikasi lagi setelah pertengkaran itu. Shasi pun yang masih merasa sangat menyayangi rivan, menghubungi rivan meminta menemuinya untuk memberinya penjelasan mau dibawa kemana hubungan mereka itu. Setelah dua hari berlalu, shasi yang selalu memikirkan mengapa sikap rivan seperti itu padanya. Ia pun jatuh sakit, sampai-sampai sempat di periksa ke dokter dan sore kemarin keluar darah dari lubang hidungnya. Sore ini pun rivan menemuinya di sebuah taman di dekat rumah shasi. Rivan pun tahu ketika itu shasi sedang sakit, awalnya rivan menolak untuk menyelesaikan semuanya itu hari ini karena takut jikalau nanti shasi mendengarkan penjelasan dari rivan tentang hubungannya ini, keadaan shasi yang sedang sakit malah semakin memburuk. Namun apa daya, shasi yang memaksanya untuk bertemunya dan menyelesaikan semuanya sore ini juga. Apapun yang akan terjadi, apapun yang akan rivan katakan, shasi merasa sudah menyiapkan mentalnya yang kuat untuk mendengar semuanya.

“Gimana keadaan kamu? Udah baikan?”

Sapa rivan untuk pertama kali setelah beberapa hari ini mereka tidak bertemu. Dengan belaian lembutnya juga ia mengusap rambut shasi dan kening shasi yang terasa hangat karena sakitnya.

“hem iya. Udah mendingan kok. Yaudah sekarang apa yang mau kamu omongin. Bilang aja sekarang”

Degup jantung shasi terasa berdetak lebih kencang kala itu. Menyiapkan diri untuk apa yang akan di katakan oleh rivan. Panas tubuhnya juga terasa begitu hangat dengan keringatnya yang sedikit-demi sedikit mengucur di tubuhnya.

“gausah sekarang deh yaa. Aku takut keadaan kamu malah jadi lebih parah. Mendingan sekarang kamu pulang aja deh yaa”

Rivan mencoba membujuk shasi untuk tidak menyelesaikan semuanya sore itu. Namun shasi tetap pada pendiriannya dan semuanya harus terselesaikan sore itu juga.

“apaansih. Aku gapapa kok. Kamu mau ngomong apa. Selesain semuanya biar jelas semuanya. Aku janji aku gaakan kenapa-kenapa setelah ini. Sekarang apa yang kamu mau bilang ke aku? Ngomong”

Shasi terus mendesak rivan untuk mengucapkan kata-kata yang ingin rivan ucapkan padanya.

“tapi kamu janji yaa kamu gaakan tambah sakit kalo aku jujur jelasin semuanya. Kamu janji kamu gaakan nangis setelah ini disini ataupun di rumah kamu janji kamu ga nangis!”

“dih siapa juga yang mau nangis. Emang aku cewek cengeng apa? Hahaha. Bilang aja kali? Ayooo ngomong? Kamu mau bilang kalo kamu masih sayang lady kan? Dan kamu ga pernah sayang sama aku? Hahaha itu kan yang mau kamu bilang. Ayoo ngomong? Kok diem? Eh!”

Semakin lemas tubuhnya shasi rasakan. Namun di depan rivan ia sok tegar dan sok kuat. Dengan senyum dan tawa lesunya ia mencoba bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada dirinya, padahal dalam hatinya ia merasa teriris pisau yang amat sangat tajam.

“hem iyaa”

“kok iyaa? Iya apa nih? Ngomong dong yang jelas? Bilang apa yang aku ucapin tadi lengkap. Kamu bilang dong, iya aku masih sayang sama lady dan aku udah ga sayang sama kamu. Kamu bilang gitu dong ke aku. Eh! Ayoo ngomgong rivan”

Lagi-lagi shasi sok kuat, padahal dilihat lebih dekat lagi ternyata tanpa disadari ia menitikkan air mata dari kedua bola matanya.

“hem iya aku masih sayang sama lady. Dya cinta pertama aku  disekolah. Jujur, Aku masih belum bisa lupain dya. Aku mau sekarang kita sahabatan aja yaa”

Hancur remuk pupus sudah harapan shasi. Merasa tertimpa gedung bertingkat-tingkat, terasa hatinya sedang terpotong-potong oleh pisau yang baru di asa, begitu tajam. Seakan-akan kedatangan bencana alam yang begitu besar. Panas tubuhnya makin tinggi ia rasakan. Airmatanya pun tak kuasa untuk mengalir.

“hey. Tuhkan. Kenapa kamu nangis? Kamu udah janji tadi kalau kamu gaakan nangis! Hapus air mata kamu sekarang juga! Hapus aku bilang!”

Rivan mendekap tubuh shasi yang hanya terdiam menunduk bersandar di tembok yang ada di belakangnya. Shasi terlihat begitu lemas, ia tidak berani menatap wajah rivan yang terus mendesaknya untuk menghapus air matanya. Shasi pun memberontak pada rivan yang mendekap tubuhnya lebih erat dan berusaha untuk meninggalkan rivan. Namun kekuatan shasi pada kala itu memang tidak melebihi rivan. Rivan mendorong tubuh shasi keras saat shasi mencoba untuk berpaling pergi. Melihat air mata shasi yang terus mengalir dan tubuh shasi yang semakin lemah. Rivan merasa amat sangat bersalah karena sudah menyakitinya seperti itu, rivan pun juga tak kuasa menahan air matanya. Dan shasi pun terdiam dalam pelukan rivan yang menggapai tubuhnya. Mencoba menghapus air matanya yang tak berhenti mengalir. Beberapa menit kemudian, shasi pun merasa sedikit lebih tenang dan mulai menghapus air matanya. Dan menguatkan diri untuk menatap wajah rivan yang ada di hadapannya. Meskipun sedikit masih tidak percaya, orang yang amat sangat di sayanginya kini meninggalkannya. Untuk yang kesekian kalinya shasi merasakan hal yang seperti ini.

“aku udah gapapa kok. Aku mau pulang. Aku capeek. Ini buat kamu”

Mencoba meyakinkan rivan bahwa keadaannya sudah pulih dan tidak apa-apa. Shasi mengeluarkan secarik surat dari sakunya dan ia berikan pada rivan.

“kamu beneran udah gapapa. Ini apa? Yaudah sekarang aku antar kamu pulang yaa”

“iya aku gapapa kok. Itu surat. Kamu boleeh buka surat itu kalau kamu udah di rumah ya.”

 

Merekapun pulang, rivan mengantarkan shasi ke rumahnya. Setelah semuanya terselesaikan. Sesampainya rivan di rumah, ia pun bergegas untuk membuka surat yang shasi berikan tadi. Perlahan-lahan ia buka pengikat surat itu, dan di dapatinya selembar kertas putih. Dilihatnya sebuah nama yang terukir di atas selembar kertas putih itu. Namanya, RIVAN. Yaaa, namanya yang terukir diatas kertas putih itu dengan tinta berwarna merah yang setelah ia sadari ternyata itu adalah darah shasi.

Iyaa, saat kemarin melihat darah yang keluar mengucur begitu saja dari lubang hidungnya, shasi mengingat rivan. Ia ambil selembar kertas putih , lalu mengukir sebuah nama menggunakan darahnya itu. RIVAN. Yaa , nama rivan ia rangkai dengan kondisinya yang lemah, dengan begitu penuh perasaan, dengan air mata yang mengalir, ia tulis nama rivan di atas kertas putih itu menggunakan tinta berwarna merah yang tidak lain adalah darahnya itu. Ia lipat dan ia masukkan ke dalam satu kotak surat, saat ingat sore ini rivan ingin menemuinya, shasi berfikir ingin memberikan surat itu pada rivan. Dan kini rivan pun telah menerimanya. Melihat itu, rivan hanya bisa terdiam, merasa iba, ia merasa sedih dan merasa menyesal karena telah mengecewakan shasi yang ternyata amat sangat menyayanginya. Baru kali ini ia merasakan kasih sayang dari seorang wanita yang begitu tulus padanya seperti shasi.

***

Malamnya, tanpa berfikir panjang, rivan pun meraih telepon genggamnya dan hendak menghubungi shasi. Rivan berfikir untuk mengulang segalanya dan mencoba untuk menjalin hubungan lagi dengan shasi. Rivan berjanji ingin melupakan lady, karena ia tidak ingin menyia-nyiakan wanita yang sangat menyayanginya dengan tulus seperti shasi. Rivan berniat untuk mengubah semuanya menjadi seperti awal mereka menjalin hubungan. Namun saat hendak menghubungi shasi, terdengar suara seseorang yang berbicara padanya dengan suara lemah seperti habis menangis.

“haloo. Shasinyaa ada ? ini siapa ya? Mana shasi?”

Ketika itupun rivan tak kuasa untuk menahan air mata saat mendengar kabar yang ia terima dari suara di balik telephone. Entah apa yang ia rasakan malam ini. Hanya bisa terdiam di atas tempat tidurnya ia berbaring. Hatinya terasa begitu lemah. Perasaan merasa bersalah terus menghantuinya. Pikirannya tak terbayang apa-apa, hanya ada wajah shasi yang di ingatnya.

***

Pagi ini rencananya jenazah shasi akan di sembahyangkan di rumah duka tempat keluarganya. Karena hari ini rivan sekolah. Ia pun tak sempat untuk mengikuti upacara kematian shasi. Di sekolah pun rivan hanya bisa terdiam dan terus merasa bersalah, dan masih tidak percaya dengan kenyataan yang telah terjadi.

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Dengan cepat rivan menuju halte bus tempatnya menunggu kendaraan umum. Hendak ingin pergi ke acara pemakaman shasi siang ini.

Sampai di tempat tujuannya. Masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah nama yang tertulis pada batu nisan. Sekujur tubuh yang telah tertanam dalam tanah untuk selama-lamanya. Shasi. Iya, rivan berdiri di depan makam shasi dengan mata yang berkaca-kaca dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Ia pun tertunduk lemah di depan batu nisan nama shasi.

“shasi. Kenapa kamu ninggalin aku di saat aku mulai yakinin perasaan aku buat kamu. Kenapa kamu gak bilang sama aku kalau ternyata kamu mengidap penyakit keras. Kenapa kamu hanya menuliskan nama aku di surat itu yang ternyata menjadi surat terakhir untuk aku dari kamu. Aku masih sayang sama kamu shasi. Tapi takdir berkata lain. Aku bener-bener ga percaya kalo ternyata kamu udah gaada buat aku dan kamu udah ninggalin aku untuk selama-lamanya. Semoga kamu tenang ya si disana, makasih buat semuanya yang udah kamu kasih ke aku. Makasih udah jadiin aku orang yang beruntung karena memiliki cinta yang tulus dari kamu. Cinta yang kamu bawa sampai hembusan nafas terakhir kamu ini. Mungkin benar apa yang dulu kamu ucapin ke aku, bahwa cinta itu ga harus memiliki. Cinta sejati adalah cinta yang merasa bahagia melihat pasangannya bahagia meskipun bersama orang lain. Cinta sejati adalah cinta yang saling mendoakan cintanya itu meskipun ia tidak ada di sisinya. Dan aku akan terus doain kamu si disini, meskipun kamu gaada di samping aku sekarang. ILYSMCH MY MINNIE  :* aku pasti bakal kangen banget sama kamu……”

THE END

Advertisements